“Saya ingin tanya sama kamu. Gy,” ucap Remi. “Apakah Keenan pernah meminta buku ini dari kamu?”
Kugi bahkan tak bisa menemukan suaranya sendiri. Ia hanya bisa menggeleng.
“Lalu … kenapa saya harus meminta untuk bisa kamu kasih?”
Sesuatu berhasil bergerak. Menembus kebisuan dan kebekuan yang mengunci Kugy. Sebutir air mata. Seolah menyentuh boneka porselen, dengan teramat halus Remi menggenggam telapak kiri Kugy, tempat cincin pemberiannya melingkar. “Apakah kamu pernah minta cincin ini dari saya?”
Butir kedua. Dan Kugy kembali menggeleng.
“Lalu … kenapa saya yang harus minta supaya kamu mau pakai?”
Kugy hampir tak bisa bernapas. Berusaha menekan isaknya sekuat tenaga. Namun, ia tak berhasil menembus kebisuan dan kebekuan.
Masih dengan kehalusan yang sama, kali ini Remi menarik lepas cincin di jari Kugy. Hati-hati. “Kalau nggak begini, saya akan selalu meminta kamu untuk mencintai saya, Gy. Semua yang kamu lakukan adalah karena saya meminta. Carilah orang yang nggak perlu meminta apa-apa, tapi kamu mau memberikan segala-galanya.”
sebait cerita Perahu Kertas yang berhasil membuat saya merenung begitu lama dan menangis.






